Dakwahlah Tentang Tauhid, Ibadah, Akhlak, & Muamalah. Kenapa Harus Didikotomi?

Ilustrasi tentang dakwah, via: https://www.instagram.com/yukngajiid/

Terkadang orang-orang pada ribut, ada masalah yang terjadi bukan karena belum ada solusinya ataupun sulit mendapatkan solusinya.

Melainkan karena sekadar melakukan “hal-hal kurang kerjaan” 😖 , yang sebenarnya kalau “hal-hal tersebut” tidak dilakukan, maka tidak akan menimbulkan masalah. 😅

Termasuk salah satunya, ada oknum yang suka membantah-bantah bahwa, “Bila kita ingin berdakwah itu, dakwahlah tentang aqidah dan tauhid! Bukan dakwah tentang ekonomi, bukan tentang politik, dan sebagainya!”.

Padahal, dakwah itu yah tentang apapun persoalan di dalam Islam.

Ajaran Islam itu harus diamalkan secara kaffah (totalitas), dan semuanya harus didakwahkan.

  • Bukan untuk dipilah-pilih bahas tauhid doang tapi nggak mau bahas sholat.
  • Tidak bisa bahas sholat oke, tapi bahas zakat no way.
  • Tidak bisa bahas sabar oke, tapi bahas kewajiban mencari nafkah no way.
  • Tidak bisa bahas istighfar oke, tapi bahas hijrah no way.
  • Tidak bisa bahas mengimani hidayah itu berasal dari Allah, oke. Tapi diajak berdakwah mengajak orang kepada Allah, no way.

Ntah kenapa, keanehan mendikotomi-dikotomi hal-hal yang seharusnya bersamaan begini menjadi trend zaman ini. 😞

Bahkan bukan hanya persoalan Islam, tapi juga persoalan lain, seperti misalnya:

  • “Percuma pakaian rapih, tapi badan bau!!”, kemudian yang ditangkap orang adalah, “Oh yaudah kalau gitu mending saya wangi aja tapi nggak usah rapih.”
  • “Percuma produknya enak, tapi kalau marketing-nya minim, yah susah dapat sales!”, kemudian yang ditangkap orang adalah, “Oh yaudah kalau gitu mending saya fokus di marketing, biar produknya asal-asal aja nggak apa-apa.”
  • Dan lain sebagainya.

Padahal…

  • Yah jadilah rapih dan wangi. Kenapa harus didikotomi?
  • Yah buatlah produknya enak dan optimalkan marketing-nya. Kenapa harus didikotomi?
  • Yah dakwahlah tentang tauhid, tentang ibadah, tentang akhlak, dan tentang muamalah. Kenapa harus didikotomi?

Aneh kan? 🤔

Sehingga, saya tidak mengerti, bagaimana bisa ada oknum yang mengatakan “Bila kita ingin berdakwah itu, dakwahlah tentang aqidah dan tauhid! Bukan ekonomi, bukan politik, dan sebagainya!”

Hmmm….

Tapi kita harus berhunudzon terlebih dahulu. 🙂 Makanya saya sebut orang tersebut hanyalah oknum saja. 😅

Karena, sebenarnya pertanyaannya tersebut tidak sepenuhnya salah. Malahan bisa jadi bener banget, saya setuju banget. 😁 Namun, terkadang ada oknum yang barangkali kurang tepat merangkai kata-katanya.

  • Kalau konteks pembahasannya soal mendikotomi ajaran Islam, itu salah. 😏
  • Tapi kalau konteks pembahasannya soal prioritas, itu benar. 😊

Kalau maksudnya “Dakwah tauhid, bukan dakwah muamalah” itu adalah dakwah tauhid merupakan prioritas awal, itu jelas bener banget.

Yaps, itu tidak ada perbedaan. Jelas tauhid dulu.

Bahkan saya pribadi insyaAllah berhasil berubah meninggalkan beberapa maksiat, setelah mendapatkan dakwah tauhid. 🙂

Padahal, sebelumnya sudah banyak sekali yang mengingatkan saya tentang kemaksiatan itu. Banyak banget malah. Berkali-kali. Tapi saya tetep tidak mau meninggalkan maksiat-maksiat saya…

Kemudian bahkan dalam hitungan tahun alhamdulillah, saya baru bisa meninggalkan maksiat-maksiat saya, setelah mendapatkan dakwah tauhid.

Dan saya pikir bukan cuma saya saja, yang lain juga banyak begitu. 😀

Karena memang kan segala perbuatan kita itu bisa diterima Allah, benar, dan bahkan berdampak; bila kita ikhlas menjalankannya semata-mata terdorong ingin mendapatkan ridha Allah. Bukan terdorong karena biar dapat untung, bukan biar dipuji orang, bukan biar dapat ‘enak’ biologis maupun psikis, dan sebagainya. Melainkan terdorong karena perintah Allah semata.

Tapi kalau mengatakan “Dakwah tauhid, bukan dakwah muamalah” pada faktanya bertahun-tahun dakwah tauhid melulu (bahkan 10-20 tahun lebih), tak kunjung membahas muamalah seperti politik; kayaknya ada yang aneh tuh

Nah yang ini saya khawatir.. 😞

Khawatirnya termasuk kemaruk mendikotomi seperti halnya yang dibahas di atas tadi. Topik aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah; seharusnya berpasangan, tapi kok terkesan seperti mendikotomi.

Kenapa terkesan mendikotomi, indikasinya:

  • Awalnya membahas topik A. Kemudian terus berlanjut hingga bertahun-tahun, bahkan 10 tahun, bahkan 20 tahun, dan terus berlanjut. Tapi B dan C nggak kebahas… Kirain membahas A dulu, karena memang harus itu prioritas awalnya. Tapi eh kok malah A A melulu. Giliran mau membahas B, kok dibilang nggak usah? 😧
  • Dan yang bikin lebih aneh lagi, oknum yang melarang jangan membahas politik, ternyata oknum tersebut cukup mesra dengan penguasa. Terkesan seperti ‘alat penguasa’. 😱Bahkan tatkala penguasa sudah melakukan kemaksiatan terang-terangan, yang semua orang (kecuali mereka) jelas tidak ridha dengan penguasa, tapi oknum itu sendiri doang yang melarang jangan mengkritik penguasa. 😱

    Giliran orang lain yang melakukan kemaksiatan yang sama seperti yang dilakukan penguasa bahkan lebih parah, si oknum mengkritik orang lain itu habis-habisan, tapi tetep aja kalau penguasanya nggak pernah dikritik. 🙄

    Janggal kan? 😂

Jadi, kesimpulannya; amalkan dan dakwahkanlah ajaran Islam A to Z. Tentang tauhid, tentang ibadah, tentang akhlak, dan tentang muamalah. Kaaffah…

Islam kaffah
Ilustrasi cakupan syariat Islam, via: https://www.slideshare.net/MushabAbdurrahman/

Nah, begitulah… 😊

Clear ya?

Sudah jelas ya?

Alhamdulillah kalau begitu… 😄

Awas nanti kalau masih ada lagi yang main bantah-batahan “Iya tapi kan tauhid dulu! Tauhid dulu! Baru yang lain! Dakwah tauhid dulu! Bukan politik! Bukan ekonomi! Dulu Rasul dan para Nabi itu dakwah tauhid dulu! Bukan politik!”. 😓

Ah sudahlah saya capek muter-muter dari awal lagi bahasnya, hehehe… 😅

Sepertinya kita ini, terutama saya; perlu lebih menjaga asupan makanan-minuman serta rutin berolahraga. Biar insyaaAllah tubuh sehat, dan ingatannya bagus, nggak mudah lupa… 😂

Dakwah tauhid dulu atau khilafah dulu? Yahh tauhid dulu. Lalu khilafah. Keduanya harus didakwahkan.
Ilustrasi dakwah Rasulullah, via: http://designerperadaban.blogspot.co.id/

Terakhir, sebagai penutup…

yang jelas, di akhirat nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban terkait keimanan kita dan ketaqwaan kita. Apa-apa yang Allah perintahkan, dan apa-apa yang Allah larang; semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Semuanyaaaaa… 😂

Bukan cuman soal tauhid doang.

  • Soal tauhid, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal sholat, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal puasa, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal berkata jujur dan tidak berkata bohong, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal menghormati orang tua, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal bersikap lemah lembut pada sesama, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal cara mendapatkan harta, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal cara membelanjakan dan mengembangkan harta, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal berinteraksi dengan lawan jenis, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal mengangkat seorang pemimpin umat muslim untuk memerintah dengan hukum Islam, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal pengaturan APBN menurut hukum syara’, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
  • Soal melegalisasi sistem sanksi dan pembuktian di Peradilan menurut hukum syara’, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللّٰـهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab itu dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

[QS. Al-Baqarah: 85]

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ادْخُلُوا۟ فِى السِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

[QS. Al-Baqarah: 208]