Kita Tak Perlu Membenci Orang, Tapi Kita Perlu Membenci Kedzalimannya Saja

dakwah bukan hate speech kebencian
Ilustrasi via http://www.globalmuslim.web.id

Sebenarnya persoalan kritik-mengkritik itu adalah hal yang biasa. Membahas perbuatan salah dan jelek seseorang, itu biasa.

Namun, ada sebagian orang yang mengatakan, “Tidak boleh menjelek-jelekkan orang, itu ghibah. Jangan menghina penguasa. Lebih baik kita perbaiki diri kita sendiri saja.”

Memang betul, kita tidak boleh menjelek-jelekkan orang. Tapi kalau perbuatannya termasuk kemungkaran, dan dampak buruknya besar terhadap masyarakat, maka di situ perlu ada amar ma’ruf nahi mungkar. “Amar ma’ruf nahi mungkar” itu beda yaa dengan “menjelek-jelekkan”, “menghina”, “mengejek”, dan sebagainya.

Justru karena kita sayang, makanya kita mengingatkan. Jangan sampai kedzaliman terlestari.

Kadang anehnya, malah justru sebaliknya. Kalau pada masalah yang berdampak publik, katanya tidak usah diungkit-ungkit, karena itu termasuk ghibah. Giliran masalah private yang tak berdampak publik, malah getol digosipin. Padahal justru itu yang ghibah. Kalau bahas kemungkaran publik, itu boleh.

Coba simak penjelasan Imam Nawawi di Kitab Riyadush Shalihin. Hal itu termasuk yang namanya tahdzîrul muslimîn min asy syarr wa nashîhatuhum (memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap suatu keburukan dan menasihati mereka).

Beberapa dalil diantaranya adalah:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Lahab: 1-5)

عن عائشة رضي الله عنها أن رجلا استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ “ائذنوا له، بئس أخو العشيرة‏؟‏ ‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Aisyah r.anha bahwa seseorang meminta izin pada Nabi SAW, lalu beliau berkata: izinkanlah ia, seburuk-buruk saudara suatu kabilah. (Muttafaq Alaih)

Al-Bukhari berhujjah dengan hadits ini mengenai kebolehan berghibah terhadap ahlul fasad (pembuat kerusakan) dan ahlu ar rayb (menciptakan keraguan).

وعنها قالت‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏ما أظن فلانًا وفلانًا يعرفان من ديننا شيئًا‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏ قال الليث بن سعد أحد رواة هذا الحديث‏:‏ هذان الرجلان كانا من المنافقين

Dan masih dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, aku melihat si fulan dan si fulan tidaklah mengetahui sedikitpun dari perkara agama kami. (HR al Bukhari). Al-Layts ibn Sa’ad —salah seorang perawi hadits ini— berkata: kedua orang yang disebut di sini adalah orang munafiq.

Jadi, yaa begitu…

Tapi, tetap harus mengkritik secara proporsional

Meskipun begitu, memang tidak dipungkiri ada oknum umat muslim yang kurang proporsional saat melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Seperti misalnya berlebihan menjelek-jelekkan pelaku maksiat tersebut, bahkan sampai hal-hal yang private. Bahkan sampai hal-hal fisik, seperti misalnya —mohon maaf— menjelek-jelekkan kepala yang botak, perut yang buncit, dan sebagainya. Malah ada yang bikin hoax juga.

Nah, maka dari itu, perlu kita list pola kritik dalam konteks nahi munkar yang proporsional.

1. Bahaslah fakta. Pastikan sudah diklarifikasi, dan sudah didalami benar-benar. Jangan hoax. Jangan prasangka.

Iyaps. Salah satu bentuk kritik proporsional dalam konteks amar ma’ruf nahi munkar adalah, kita membahas suatu fakta kedzaliman. Harus fakta. Jangan hoax. Jangan prasangka. Jangan khayalan.

Karena kadang ada orang yang dia itu membuat khayalan tentang orang lain, lalu dia mengomentari khayalan yang ia ciptakan sendiri itu. Seperti misalnya:

  • “Aku yakin kayaknya dia sering mencuri itu! Soalnya kendaraannya mewah gitu, pasti hasil dari tipu-tipu!”
  • “Kayaknya dia itu teroris tuh! Kemarin aku lihat di dapurnya kayak ada serbuk-serbuk gitu… Jangan-jangan itu bahan peledak!”
  • “Sepertinya dia ingin menghancurkan…”
  • “Kayaknya dia itu keturunan orang asing…”
  • “Mungkin….”
  • “Jangan-jangan….”
  • “Dugaanku….”

Nah, yang gitu-gitu. Prasangka-prasangka gitu.

Jangan begitu.

Kalau mau mengomentari, komentarilah fakta. Jangan khayalan.

Kalau memang ada fakta, maka fakta itu harus didalami dulu. Harus tahu detail. Jangan cuma sekilas.

Khawatirnya, dampaknya ibarat seperti kalau kita melihat dari jauh ada bapak-bapak yang memukul anaknya. Lalu anaknya menangis. Kemudian kita mengomentari, “Wuih, kejam banget Bapak itu! Gila! Kejam! Kejam banget! Nggak punya perasaan! Masak anaknya dipukul?”

Padahal, bila kita dalami faktanya, ternyata Bapak itu sedang memukul nyamuk yang ada di tangan anaknya. Dan anaknya memang dari awal sudah nangis karena persoalan lain, bukan karena dipukul. Dan pukulannya tidak sakit.

Nah, justru yang gila dan kejam itu adalah orang yang langsung berkomentar tidak mau (seringnya malas) mendalami fakta. Terlalu tergesa-gesa. Lebih didorong karena perasaan, bukan karena kesadaran. Apalagi keimanan.

Maka dari itu, hal ini perlu dicatat baik-baik. Dalami dulu faktanya.

Ingat, kita ini muslim. Kepentingan kita itu, amal sholeh. Salah satu bentuk amal sholeh adalah, amar ma’ruf nahi munkar. Dan amar ma’ruf nahi munkar itu harus pada fakta.

Kepentingan kita bukan melampiaskan emosional semata.

2. Gunakan hanya sudut pandang Islam sebagai penilai untuk berkomentar, jangan asal-asalan.

Nah, ini pola kedua yang harus ada juga. Ini hal unik yang membuat komentar kita itu khas termasuk komentar yang syar’i.

Bila kita sudah dapat fakta suatu perbuatan ataupun kebijakan, maka kemudian kita cari status hukum dari fakta perbuatan/kebijakan tersebut. Hukumnya apa? Boleh atau tidak boleh? Halal atau haram? Apakah wajib? Sunnah? Mubah? Makruh? Atau haram?

Seperti misalnya: “Apa hukumnya menaikkan harga BBM?”

Kalau ternyata hukumnya boleh, yah tidak usah dipersoalkan. Biarin aja. Atau kalau malah hukumnya wajib, atau sunnah; maka justru kita apresiasi. Nggak perlu dipersoalkan.

Nah, tapi kalau fakta perbuatan dan kebijakan itu hukumnya haram, barulah kita persoalkan. Yang namanya haram, yah nggak boleh dilakukan lah. Harus ditinggalkan. Kalau ada yang belum tahu, yah dikasih tahu. Kalau belum terlalu paham, yah dibantu paham. Kalau sudah paham tapi belum mau, yah dinasehati.

Nah, nasehat itu termasuk amar ma’ruf nahi munkar.

(Meski bagi sebagian orang, nasehat itu rasanya pahit. Makanya kerap ditolak. Tapi kadang menolaknya dengan alasan-alasan yang canggih. Jadi seolah-olah penasehatnya itu yang salah, pelakunya udah bener nggak ada salah.)

Kembali ke topik.

Jadi… yah itu… pastikan kita hanya menggunakan sudut pandang Islam, saat mengkritik. Kita itu mengkritik sesuatu, karena Allah mengharamkan sesuatu itu. Kita mengingatkan. Jadi kita itu bukan mengkritik karena emosi nggak suka saja. Atau karena pertimbangan nggak jelas yang lain.

Inilah pola kritik syar’i, bahas fakta + nilai dari sudut pandang Islam.

Kalau tidak seperti itu, maka jatuhnya bisa jadi sekadar ngejek-ngejek, menghina, mencela, menjelek-jelekkan, hate speech. Bukan kritik syar’i.

3. Benci perbuatan dzalimnya, bukan personnya.

Sebenarnya kalau pola kritik syar’i (bahas fakta + nilai dari sudut pandang Islam) di atas sudah kita lakukan, maka otomatis kita bisa menjadi sekadar membenci perbuatan dzalimnya, bukan personnya.

Jadi, selama dia melakukan kedzaliman tersebut, yah kita nggak suka. Bisa jadi, selama dia mempertahankan kedzalimannya, maka Allah akan mengadzabnya.

Tapi kalau dia sudah menghentikan kedzalimannya, insyaAllah Allah tak akan mengadzabnya.

Jadi karena kedzalimannya itu loh, yang kita nggak suka. Bukan karena personnya.

Kalau sudah nggak suka sama personnya, maka mau dia ngapain aja, jadinya pasti selalu salah. Saat dia memberi, dicurigai pamrih. Saat tidak memberi, dikatain pelit. Saat datang menegur, dicurigai pasti ada maunya. Saat tidak datang, dikatain sombong. Pokoknya serba salah lah.

Itu kalau sudah benci person.

Tapi kalau benci kedzaliman, sekiranya dia sudah tidak dzalim lagi, yah kita senang sama dia.

Makanya, hentikan kedzalimannya. Biar nggak dapat kritik-kritik.

4. Jangan ejek fisiknya.

Mengejek-ngejek fisik itu seperti misalnya yang itu tadi, —mohon maaf— menjelek-jelekkan kepala yang botak, perut yang buncit, dan sebagainya.

Ini juga sama seperti sebelumnya, mengejek-ejek fisik sebenarnya bagian dari membenci karena person.

Maka, kembalilah ke pola yang sudah kita pelajari sebelumnya: bahas fakta suatu perbuatan atau kebijakan + nilai dari sudut pandang Islam.

Bila kita fokus ke situ, maka otomatis kita nggak akan ada kepentingannya buat ngejek-ngejek fisik orang.

Nah, setidaknya, begitulah pola kritik syar’i.

Kalau ada yang Anda kurang mengerti, boleh silahkan tanyakan di kolom komentar di bawah ini.

Atau kalau ada yang salah di tulisan ini, boleh disampaikan.

Semoga bermanfaat.